Reksadana Syariah

  1. A. Pengertian Reksadana Syariah

Reksadana syariah berasal dari kata “Reksa”, yang berarti kelola atau pelihara. “Dana” berarti uang, dan “Syariah” adalah aturan-aturan yang sesuai dengan Islam.  Maka reksadana syariah adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal masyarakat untuk diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi serta sesuai dengan ketentuan syariat islam.

Reksadana sendiri adalah sarana investasi yang sederhana dimana setiap orang dengan tujuan investasi yang sama mengumpulkan dana mereka untuk dikelola oleh seorang manajer investasi profesional sesuai dengan tujuan investasinya.

Sedangkan Reksadana Syariah merupakan sarana investasi campuran yang menggabungkan saham dan obligasi syariah dalam satu produk yang dikelola oleh manajer investasi. Manajer investasi menawarkan reksadana syariah kepada para investor yang berminat, sementara dana yang diperoleh dari investor tersebut dikelola oleh manajer investasi untuk ditanamkan dalam saham atau obligasi syariah yang dinilai menguntungkan.

Reksadana hanya diperbolehkan sebagai jenis investasi untuk efek (surat berharga), tidak investasi langsung ke sektor riil (usaha). Jadi, investasi reksadana hanya diperkenankan pada produk keuangan seperti saham, obligasi, deposito, valuta asing, dan sebagainya. Mungkin yang dimaksud oleh petugas bank tersebut adalah bahwa reksadana syariah menginvestasikan dana yang dikelolanya ke dalam saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan produksi/manufaktur, bukan ke saham atau obligasi perusahaan keuangan. Hal ini tentunya dapat dipahami karena perusahaan/lembaga keuangan sebagian besar masih belum sesuai syariah.

Pada prinsipnya reksadana tidak bertentangan dengan syariat, karena menggunakan prinsip bagi hasil. Para pemodal masing-masing patungan dengan menyetorkan dana dan hasil investasinya juga dibagi kepada para pemodal sesuai dengan proporsi modal yang disetorkannya. Yang jadi masalah adalah kemana dananya diinvestasikan. Reksadana konvensional tentu saja hanya menggunakan pertimbangan tingkat keuntungan saja untuk mengatur portofolio investasi. Sedangkan, reksadana syariah juga harus mempertimbangkan kehalalan suatu produk keuangan selain tingkat keuntungannya.

Jika reksadana syariah membeli saham, maka saham yang dibeli harus perusahaan yang sudah dinyatakan sesuai syariat yang masuk ke dalam JII (Jakarta Islamic Index). Obligasi yang boleh dibeli pun hanya obligasi syariah saja. Begitu juga dengan deposito, hanya yang diterbitkan oleh bank syariah.

 

  1. B. Sejarah Reksadana Syariah

Di Indonesia reksadana telah ada sejak tahun 1977 melalui PT. Danareksa. Produk yang ditawarkan masih belum bervariasi seperti sekarang, dan penyebarannya masih terbatas pada kalangan tertentu

Pada tahun 1997, perusahaan sekuritas milik Negara PT. Danareksa menjadi pionir dalam menerbitkan reksadana syariah. Reksadana menjadi instrument pasar modal pertama yang beroprasi sesuai syariah Islam dan sbagai langkah awal lahirnya pasar modal syariah.

Tiga tahun setelah hadirnya reksadana syariah , PT. Danareksa kembali mengeluarkan instrument syariah baru, yakni berupa JII (Jakarta Islamic Index) sebuah badan indeks saham syariah. Indeks ini memperdagangkan saham-saham perusahaan pilihan dengan ketentuan prinsip operasinya tidak bertentangan dengan syariah islam.

Pesatnya perkembangan reksadana baik konvensiaonal maupun syariah tidak terlepas dari kehadiran Undang-Undang tentang pasar modal Indonesia No.8 tahun 1995. juga telah diluncurkanya pasar modal syariah oleh Bapepam yang bekerja sama dengan DSN (Dewan Syariah Nasional) yang diawasi langsung oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah). Diharapkan dengan munculnya badan-badan diatas, agar semua pihak yang terlibat di pasar modal merasa dilindungi hak-hak masyarakatnya dari praktik perdagangan yang merugikan.

 

  1. C. Jenis Reksadana Syariah

Reksadana syariah mempunyai tiga jenis, yaitu :

  1. Reksadana Batasa Syariah

Adalah reksadana berbentuk kontrak investasi kolektif yang bersifat terbuka berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal no.8 tahun 1995. Tujuan investasi reksadana sesuai dengan kontrak kolektif adalah mempertahankan nilai modal dan mendapatkan tingkat keuntungan yang optimal dalam jangka panjang kepada pemodal yang hendak mengikuti syariah Islam dengan hsil investasi yang bersih dari unsur riba dan gharar.

 

 

    1. PNM Syariah

Adalah reksadana campuran (balance fund) yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan nilai investasi yang optimal dalam jangka panjang dengan melakukan investasi pada efek ekuitas, efek utang dan instrumen pasar uang da perusahaan-perusahaan yang kegiatan usaha dan hasil usahanya sesuai dengan syariah islam.

    1. Danareksa Syariah Berimbang

Adalah reksadana yang bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang dan memperoleh pendapatan yang berkelanjutan kepada pemodal yag hendak mengikuti syariah islam.

 

  1. D. Bentuk Reksadana Sariah

Pada prinsipnya, reksadana syariah sama dengan reksadana konvensional yang bertujuan mengumpulkan dana dari masyarakat untuk dikelola oleh manajer investasi. Perbedaannya reksadana syariah memiliki kebijakan investasi yang berbasis pada prinsip-prinsip syariah islam. Instrument investasi yang dipilih dalam portofolio harus dikategorikan halal.

Dilihat dari sisi aspek hukum, bentuk reksadana terdiri dari dua bentuk , yaitu:

  1. Berbentuk Perseroan

Reksadana berbentuk perseroan merupakan badan hukum tersendiri yang berarti beroperasi sebagai perseroan terbatas dengan kegiatan semata-mata hanya reksadana. Karakteristik reksadana berbentuk perseroan adalah sebagai berikut:

  1. Bentuk hukum adalah perseroan terbatas
  2. Sponsor wajib menyetor sekurang-kurangnya 1% dari modal dasar.
  3. Pemodal adalah pemegang saham
  4. Manajer investasi bertindak sebagai pengelola kekayaan reksadana.
  5. Bank kustodion bertindak sebagai tempat penyimpanan dan pengadministrasian kekayaan reksadana.

Reksadana terbuka berbentuk perseroan mempunyai tiga sumber dana  potensial yang terdiri dari:

  1. Dividen

 

Reksadana terbuka berbentuk perusahaan dana dari penerbitan saham, dengan reksadana berkewajiban memberikan dividen kepada pemegang saham (dalam hal ini investor pembeli reksadana)

  1. Capital gain

Capital gain diperoleh dari penjualan portofolio reksadana

  1. Peningkatan harga reksadana

Peningkatan harga reksadana syariah diperoleh dari hasil penjualan saham reksadana di pasar sekunder (open-end).

 

  1. Reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK)

Reksadana berbentuk KIK adalah kontrak antara manajer investasi dan bank kustodian yang mengikat pemegang unit penyertaan di mana manajer investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan bank kustodion  diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan kolektif. Karakteristik reksadana ini adalah:

  1. Bentuk hukum adalah kontrak investasi kolektif.
  2. Sponsor wajib menyetor sekurang-kurangnya 1% dari jumlah unit penyertaan yang ditetapkan dalam kontrak.
  3. Manajer investasi bertindak sebagai pengelola kekayaan reksadana.
  4. Bank kustodian bertindak sebagai tempat penyimpanan dan pengadministrasian kekayaan reksadana.

 

  1. E. Sifat Reksadana Syariah

Dilihat dari sifatnya, reksadana dikelompokkan menjadi:

  1. Reksadana tertutup berbentuk perseroan

Reksadana tertutup adalah reksadana yang tidak dapat membeli kembali saham-saham yang telah dijual kepada pemodal.

Karakteristik reksadana ini adalah:

  1. saham reksada dicatat di bursa efek
  2. pada umunya hanya 1 kali melakukan penawaran
  3. pemodal tidak dapat menjual kembali saham reksadana yang dimilkinya kepada perusahaan reksadana atau manajer investasi
  4. jual beli saham reksadana dilakukan di bursa efek dengan harga di atas ( dengan premium) atau di bawah ( dengan diskon) dari nilai aktif bersih ( NAP).

Komponen keuntungan investor adalah saham biasa yaitu:

1.     dividen

2.     saham bonus

3.     capital again

 

  1. Reksadana terbuka berbentuk perseroan

Reksadana terbuka adalah reksadana yang dapat menawarkan dan membeli saham-sahamnya dari pemodal sampai dengan sejumlah modal yang telah dikeluarkan.

Karakteristiknya:

  1. saham reksada tidak dicatat dibursa efek
    1. pemodal dapat menjual kembali saham reksadana yang dimilikinya pada manajer investasi atas beban rekening reksadana atau rekenin sendiri
    2. harga jual beli saham reksadana berdasarkan nilai aktiva bersih

Komponen:

1. dividen income (DI)

2. capital gain distribution (CGD)

3. net change NAV (NCIN)

 

  1. Reksadana berbentuk KIK hanya bersifat terbuka

Pemodal dapat menjual kembali unit penyertaan reksadana yang dimilikinya kepada manajer investasi atas beban rekening atau beban rekening reksadana.

Karakteristiknya :

  1. unit penyertaan tidak tercatat di bursa efek
  2. pemodal dapat menjual kembali unit penyertaan rekasadana yang dimilikinya manajer investasi atas beban rekening atau beban rekening reksadana
  3. harga jual beli unit penyertaan berdasarkan nilai aktiva bersih

 

Dilihat dari portofolio investasinya atau kemana kumpulan dana diinvestasikan, reksa dana dapat dibedakan menjadi:

  1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund)

Reksadana jenis ini hanya melakukan investasi pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan memelihara modal.

  1. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed income fund)

Reksadana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat utang. Reksadana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari pada Reksadana Pasar Uang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.

  1. Reksadana Saham (Equty Fund)

Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi dari dua jenis reksadana sebelumnya namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.

  1. Reksadana Campuran (Discretionary Fund)

Reksadana jenis ini melakukan investasi dalam efek bersifat ekuitas (contoh: saham) dan efek bersifat utang (contoh: obligasi).

 

Reksadana Syariah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok investor yang menginginkan memperoleh pendapatan investasi dari sumber dan cara yang bersih yang dapat dipertanggungjawabkan secara religius yang memang sejalan dengan prinsip syariah.

Reksadana Syariah dapat mengambil bentuk seperti reksadana konvensional. Namun memiliki perbedaan dalam operasionalnya, dan yang paling tampak adalah proses screening dalam mengontruksi portofolio. Filterisasi menurut prinsip syariah akan mengeluarkan saham yang memiliki aktivitas haram seperti riba, gharar, minuman keras, judi, daging babi, rokok, prostitusi, pornografi dan seterusnya. Reksadana Syariah di dalam investasinya tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan return yang tinggi. Tidak hanya melakukan maksimalisasi kesejahteraan yang tinggi terhadap pemilik modal, tetapi memperhatikan pula bahwa portofolio yang dimiliki tetap berada pada aspek investasi pada perusahaan yang memiliki produk halal dan baik yang tidak melanggar aturan syariah.

 

  1. F. Keuntungan Reksadana Syariah

Reksadana syariah memiliki beberapa keuntungan yang dapat diberikan kepada investor, antara lain:

  1. Diversifikasi investasi

Divesifikasi yang terwujud dalam bentuk portofolio akan menurunkan tingkat risiko. Reksadana melakukan diversifikasi dalam berbagai instrumen efek, sehingga dapat menyebarkan risiko atau memperkecil risiko. Investor walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam efek sehingga dapat memperkecil risiko. Hal ini berbeda dengan pemodal individual yang misalnya hanya dapat membeli satu atau dua jenis efek saja.

b.   Kemudahan Investasi

Reksadana mempermudah investor untuk melakukan investasi di pasar modal. Kemudahan investasi tercermin dari kemudahan pelayanan administrasi dalam pembelian maupun penjualan kembali unit penyertaan. Kemudahan juga diperoleh investor dalam melakukan reinvestasi pendapatan yang diperolehnya sehingga unit penyertaannya dapat terus bertambah.

c.   Efisiensi biaya dan waktu

Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak investor, maka biaya investasinya akan lebih murah bila dibandingkan dengan jika investor melakukan transaksi secara individual di bursa. Pengelolaan yang dilakukan oleh manajer investasi secara profesional, tidak perlu bagi investor untuk memantau sendiri kinerja investasinya tersebut.

d.   Likuiditas

Pemodal dapat mencairkan kembali saham/unit penyertaan setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing reksa dana, sehingga memudahkan investor untuk mengelola kasnya. Reksa dana wajib membeli kembali unit penyertaannya, sehingga sifatnya menjadi likuid.

e.   Transparansi Informasi

Reksadana diwajibkan memberikan informasi atas perkembangan portofolio dan biayanya, secara berkala dan kontinyu, sehingga pemegang unit penyertaan dapat memantau keuntungan, biaya dan risikonya.

 

Manfaat yang diberikan reksadana syariah bagi pemerintah dan bursa efek yaitu:

  1. memobilisasi dana masyarakat
  2. meningkatkan peranan swasta nasional dalam menghimpun dana masyarakat
  3. mendorong perdagangan surat-surat berharga dipasar modal indonesia
  4. dapat mengoreksi tingkat bunga

  1. G. Risiko Investasi dengan Reksadana syariah
    1. Risiko berkurangnya nilai unit penyertaan

Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portofolia reksadana tersebut.

 

 

  1. Risiko Likuiditas

Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi manajer investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer investasi akan mengalami kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.

  1. Risiko politik dan ekonomi

Perubahan kebijakan ekonomi politik dapat mempengaruhi kinerja bursa dan perusahaan sekaligus. Dengan demikian harga sekuritas akan terpengaruh yang kemudian mempengaruhi portofolio yang dimiliki reksadana.

  1. Risiko Pasar

Hal ini terjadi karena nilai sekuritas di pasar efek memang berfluktuasi sesuai dengan kondisi ekonomi secara umum. Terjadinya fluktuasi di pasar efek akan berpengaruh langsung pada nilai bersih portofolio, terutama jika terjadi koreksi atau pergerakan negatif.

  1. Risiko Inflasi

Terjadinya inflasi akan menyebabkan menurunnya total real return investasi. Pendapatan yang diterima dari investasi dalam reksa dana bisa jadi tidak dapat menutup kehilangan karena menurunnya daya beli (loss of purchasing power).

  1. Risiko Nilai Tukar

Risiko ini dapat terjadi jika terdapat sekuritas luar negeri dalam portofolio yang dimiliki. Pergerakan nilai tukar akan mempengaruhi nilai sekuritas yang termasuk foreign invesment setelah dilakukan konversi dalam mata uang domestik.

  1. Risiko Spesifik

Risiko ini adalah risiko dari setiap sekuritas yang dimiliki. Disamping dipengaruhi pasar secara keseluruhan, setiap sekuritas mempunyai risiko sendiri-sendiri. Setiap sekuritas dapat menurun nilainya jika kinerja perusahaannya sedang tidak bagus, atau juga adanya kemungkinan mengalami default, tidak dapat membayar kewajibannya

  1. H. Hubungan antara Investor dan Reksadana Syariah

Hubungan antara investor dengan lembaga yang menangani rekasadana syariah antara lain:

    1. akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem mudharabah  / qiradh
    2. saham reksadana syariah dapat diperjual belikan
    3. kegiatan investasi reksadan;
  1. reksadana syariah dapat melakukan apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan syariah
  2. akad yang dilakukan dengan emiten dapat dilakukan melalui mudharabah (qiradh) atau musyarakah
  3. dibolehkan melakukan jual beli saham

  1. I. Kinerja reksadana syariah

Ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan dalam mengukur kinerja reksadana syariah , yaitu:

  1. tingkat hasil ( rate of return) yang diperoleh sama atau lebih besar dari tingkat hasil portofolio ( return portofolio) tertentu dengan resiko yang sama atau lebih kecil dari tingkat resiko pasar ( market risk)
  2. melakukan diversifikasi sehingga dapat mengeliminir risiko yang tidak sistematis yang diukur dengan menghitung korelasi antara tingkat hasil reksasana syariah dengan tingkat hasil portofolio pasar modal.

  1. J. Memonitor kinerja Reksadana Syariah

Investor reksadana syariah harus selalu memantau investasinya dengan cara selalu melihat prospektus, keadaan pasar saat itu , juga melihat kinerja dari fund manager yang mengelola dananya. Maka hal-hal yang perlu dipantau antara lain;

  1. total hasil investasi
  2. perkembangan NAB
  3. c. Laporan periodik

K.        Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Investasi Di reksadana Syariah

Yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. kelembagan dalam syariah islam belum dikenal lembaga badan hukum seperti sekarang
  2. 10

    hubungan investor dengan perusahaan akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem mudharabah

  1. kegiatan investasi dapat melakukan apa saja sepanjang tidak bertentang an dengan syariah
  2. seorang manajer investasi dalam reksadana syariah tidak dibenarkan melakukan spekulasi dan memberikan kepastian berapa nominal keuntungan yang akan diperoleh
  3. disamping investasi secara mandiri atau secara langsung, investor juga dapat meminta pihak lain yang dipercaya dan dipandang lebih memiliki kemampuan untuk mengelola investasi.

  1. L. Pengawasan Reksadana Syariah

Sama halnya dengan eksistensi reksadana konvensional, maka reksadana syariah juga memerlukan pengawasan dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) selaku institusi yang memiliki otoritas di pasar modal. Pengawasan yang diberikan oleh Bapepam tersebut dilakukan dalam kerangka fungsi ajudikator (adjudicatory). Oleh karena itu, Bapepam dapat melakukan segala tindakan yang bersifat judisial (judicial power) seperti mencabut ijin usaha atau melarang pihak-pihak tertentu yang melakukan pelanggaran di bidang pasar modal untuk melakukan kegiatan usahanya (Munir Fuady, 1996 : 117-118).

Selain pengawasan yang dilakukan oleh Bapepam maka terhadap reksadana syariah juga memerlukan pengawasan dari lembaga yang memiliki pemahaman tentang kaidah-kaidah investasi syariah. Adapun lembaga pengawas tersebut dikenal dengan nama Dewan Syariah Nasional.

Pada dasarnya, eksistensi dari Dewan Syariah Nasional tersebut, tidak hanya dibutuhkan untuk melakukan pengawasan terhadap reksadana syariah saja, tetapi juga untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga keuangan syariah lainnya, seperti perbankan syariah. Pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Syariah Nasional adalah bersifat substantif, dalam arti bahwa Dewan Syariah Nasional hanya mengawasi terhadap seluruh tindakan dan kegiatan yang dilakukan oleh reksadana syariah tersebut telah sesuai dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan bahwa reksadana syariah memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan reksadana konvensional

 

  1. M. Operasionalisasi Reksadana Syariah

Akad-akad yang terjadi dalam melakukan transaksi di reksadana syariah adalah akad wakalah dan mudhorobah. Antara pemodal dan manajer dan investasi dilakukan dengan system wakalah, dan antara manajer inventaris dan pengguna investasi dilakukan dengan sistem mudharabah.

Dalam reksadana syariah, pemilik dana memberikan keprecayaan kepada manajer investasi yang memberi jasa untuk menempatkan dana tersebut dalam suatu kegiatan dari pemilik usaha sesuai dengan pedoman pemenpatan (investasi) yang disepakati. Seluruh bagi hasil (positif dan negative) yang diterima oleh manajer investasi dari pemilik usaha sebagai manfaat dari pemakian dana dalam kegiatan dari pemilik usaha tersebut adalah hak pemilik dana. Oleh kerena manajer investasi telah memberikan jasanya dalam mengelola dana dari investor maka berhak mendapat imbalan (fee).

Skema Mekanisme Operasional reksadana Syariah

Karekteristik sistem mudhadabah adalah :

  1. Pembagian keuntungan antara pemodal (shahibul maal) yang diwakili oleh manajer investasi dan pengguna investasi berdasarkan pada proposisi yang telah disepakati kedua belah pihak melalui manajer investasi sebagai wakil dan tidak ada jaminan atas hasil investasi tertentu kepada pemodal.
  2. Pemodal hanya menanggung resiko sebesar dan hanya telah diberikan.
  3. Manajer investasi sebagai wakil tidak menanggung resiko kerugian atas investasi yang dilakukan sepanjang bukan karena kelalaiannya.

 

Prinsip operasional yang digunakan di reksadana syariah adalah prinsip mudharabah atau Qiradh. Prinsip mudharabah diartikan sebagai sebuah ikatan atau sistem dimana seseorang memberikan hartanya kepada orang lain untuk dikelola dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh dari hasil pengelola tersebut dibagi antar kedua belah pihak sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati oleh kedua belah pihak. Investasi yang dilakukan manajemen investasi hanya pada instrument keuangan yang sesuai dengan syariat Islam.

Sebagai konsekuensi logis adalah memperoleh keuntungan untuk menanggung resiko kerugian. Demikian pula investasi yang terjadi di reksadana syariah, pihak-pihak yang terlibat kan memperoleh keuntungan atau menanggung resiko apabila investasi mengalami kerugian.

\

Pembagian keuntungan di reksadana syariah mengacu kepada prinsip operasional yang digunakan. Oleh kerena prinsip mudharabah yang digunakan, maka pihak-pihak yang terlibat dalam reksadana syariah sama-sama memperoleh keuntungan atau sama-sama menanggung resiko (profit and loss sharing).

Unsur terpenting yang terlibat dalam pembagian keuntungan itu adalah emiten manajer investasi dan investor. Pertama-tama emiten yang mendapat keuntungan, kemudian keuntungan itu dibagi secara profesional dengan investor melalui manajer investasi, sedangkan manajer investasi mendapatkan fee dari investor.

 

  1. N. Perbedaan reksadana Syariah dan konvensional

Kegiatan reksadana yang ada sekarang masih banyak mengandung unsur-unsur yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Ada beberapa hal yang membedakan antara reksadana konvensional dan reksadana syariah. Dan tentunya ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam investasi syariah ini.

  1. Kelembagaan

Dalam syariah islam belum dikenal lembaga badan hukum seperti sekarang. Tapi lembaga badan hukum ini sebenarnya mencerminkan kepemilikan saham dari perusahaan yang secara syariah diakui. Namun demikian, dalam hal reksadana syariah, keputusan tertinggi dalam hal keabsahan produk adalah Dewan Pengawas Syariah yang beranggotakan beberapa alim ulama dan ahli ekonomi syariah yang direkomendasikan oleh Dewan Pengawas Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Dengan begitu proses didalam akan terus diikuti perkembangannya agar tidak keluar dari jalur syariah yang menjadi prinsip investasinya.

  1. Hubungan Investor dengan Perusahaan

Akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem mudharabah. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalain si pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Dalam hal transaksi jual beli, saham-saham dalam reksadana syariah dapat diperjual belikan. Saham-saham dalam reksa dana syariah merupakan yang harta (mal) yang dibolehkan untuk diperjual belikan dalam syariah. Tidak adanya unsur penipuan (gharar) dalam transaksi saham karena nilai saham jelas. Harga saham terbentuk dengan adanya hukum supply and demand. Semua saham yang dikeluarkan reksa dana tercatat dalam administrasi yang rapih dan penyebutan harga harus dilakukan dengan jelas.

c.   Kegiatan Investasi ReksaDana

Dalam melakukan kegiatan investasi reksadana syariah dapat melakukan apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan syariah. diantara investasi tidak halal yang tidak boleh dilakukan adalah investasi dalam bidang perjudian, pelacuran, pornografi, makanan dan minuman yang diharamkan, lembaga keuangan ribawi dan lain-lain yang ditentukan oleh Dewan Pengawas Syariah.Dalam kaitannya dengan saham-saham yang diperjual belikan dibursa saham, BEJ sudah mengeluarkan daftar perusahaan yang tercantum dalam bursa yang sesuai dengan syariah Islam atau saham-saham yang tercatat di Jakarta Islamic Index (JII). Dimana saham-saham yang tercantum didalam indeks ini sudah ditentukan oleh Dewan Syariah.

Dalam melakukan transaksi Reksadana Syariah tidak diperbolehkan melakukan tindakan spekulasi, yang didalamnya mengandung gharar seperti penawaran palsu dan tindakan spekulasi lainnya. Demikianlah uraian singkat mengenai reksadana syariah dan beberapa ketentuan serta prinsip yang harus dijalankan. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda dalam hal umum mengenai investasi syariah.

  1. O. Prospektus Reksadana

Buat sebagian orang mungkin prospektus merupakan dokumen yang garing dan membosankan. Tapi sesungguhnya prospektus adalah bacaan wajib yang perlu dipahami dan dijadikan acuan sebelum investor melakukan investasi di reksadana. Biasanya prospektus mendeskripsikan satu jenis reksadana, namun kadang mendeskripsikan juga beberapa reksadana sekaligus yang dikelola oleh perusahaan pengelola reksadana yang sama. Periode perhitungan reksadana biasanya dimulai 1 Januari berakhir 31 Desember. Pada tiap periode tersebut biasanya prospektus diterbitkan oleh perusahaan pengelola reksadana.

P. Pilihan Reksadana Syari’ah di Indonesia

Sebelas reksadana syariah telah ditawarkan kepada masyarakat terkategori pada reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran. Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang sebagian besar komposisi portofolio-nya di efek berpendapatan relatif tetap seperti; Obligasi Syariah, SWBI, CD Mudharabah, Sertifikat Investasi Mudharabah antar bank serta efek-efek sejenis. Tahun lalu reksadana pendapatan tetap bisa memberikan keuntungan sekitar 13-14 persen.

 

 

Yang termasuk reksadana syariah jenis ini antara lain;

  1. BNI Dana Syariah (sejak tahun 2004),
  2. Dompet Dhuafa-BTS Syariah (2004),
  3. PNM Amanah Syariah (2004),
  4. Big Dana Syariah (2004) dan
  5. I-Hajj Syariah Fund (2005).

 

Sedangkan reksadana campuran merupakan reksadana yang sebagian besar komposisi portofolio ditempatkan di efek yang bersifat ekuitas seperti saham syariah (JII) yang memberikan keuntungan relatif lebih tinggi. Rata-rata keuntungan yang bisa dibukakan investor pada reksadana ini tahun lalu sekitar 23 persen. Dari pengamatan rutin yang dilakukan terlihat Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit-nya seluruh reksadana syariah terus merangkak naik, pertanda kinerjanya baik.

Termasuk dalam reksadana ini adalah:

  1. Reksadana PNM Syariah (sejak tahun 2000),
  2. Danareksa Syariah Berimbang (2000),
  3. Batasa Syariah (2003),
  4. BNI Dana Plus Syariah (2004),
  5. AAA Syariah Fund (2004) dan
  6. BSM Investa Berimbang (2004).

About these ads